Mengenal Budaya Batak
Suku Batak,
salah satu rumpun yang menjadi suku bangsa terbesar ketiga di Indonesia yang berasal dari Sumatera Utara.
Suku Batak sendiri bermukim di beberapa kabupaten, seperti Kabupaten Karo, Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara, dan Asahan.
Adapan sistem kekerabatan suku Batak menjadi salah satu sistem yang terkenal dan membuat masyarakatnya sangat erat dalam berelasi. Sistem kekerabatan Suku Batak terdiri dari enam kategori atau puak, yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Adapun setiap puak memiliki ciri khas dari nama marga, yang menjadi sebuah tanda adanya tali persaudaraan.
Dalam kami orang Batak, paham garis keturunan bapak (patrilineal) sangatlah mendominasi. Tentu saja garis keturunan marga diturunkan dari sosok bapak dalam sebuah keluarga.
Setiap puak ini terdiri dari banyak marga yang dari marga tersebut kita bisa menemukan bagaimana posisi kita dalam sebuah marga. Hal tersebut kita kenal dengan nama Tarombo. Dalam kehidupan orang Batak, Torombo biasnanya digunalkan untuk dapat mengetahui asal-usul seseorang yang nanti pada ujungnya akan berasal pada Si Raja Batak.
Secara kepercayaan, orang Batak didominasi oleh agama Kristen Protestan, Katolik, dan sebagian lagi beragama Islam. Dan ada pula masyarakat yang menganut kepercayaan tradisional seperti agama Malim dan Animisme.
Nah, salah satu hasil budaya Suku Batak yang cukup terkenal adalah Ulos. Ulos ini dipakai dalam banyak upacara dan kegiatan adat masyarakat Batak. Adapun kegiatan tersebut dinamakan Mangulosi.
Bagi orang Batak, kain ulos mempunyai fungsi sebagai perlindungan dari segala cuaca dan keadaan. Biasanya, dalam tradisi adat, orang yang mangulosi adalah sosok yang dituakan dalam adat Batak atau disebut dengan hula-hula.
Dalam Tradisi Mangulosi kerap kita temukan persemabahan tarian ciri khas dari suku Batak yang lebih akran dikenal dengan nama Tari Tor-Tor, Tarian ini biasanya dipertunjukkan dalam berbagai acara, seperti pernikahan, ritual keagamaan, dan menyambut tamu. Dan yang pastinya belum lengkap rasanya sebuah tarian tanpa diiringi oleh musik yang mengalun dalam sebuah acara.
Alat musik Suku Batak ini bentuknya menyerupai jenis gamelan yang kita sebut dengan Gondang sabangunan.
Gondang sabangunan terdiri dari lima taganing (gendang yang punya peran melodis), 1 gordang (gendang besar penentu ritme), 3-4 ogung atau gong (pembentuk ritme konstan), dan 1 hesek (perkusi, biasanya botol kosong atau lempengan besi yang dipukul untuk membantu irama), dan sarune bolon (alat musik tiup).
Sebagai bentuk khasanah budaya batak lainnya, suku Batak memiliki rumah adat. Rumah adat suku Batak dinamakan Rumah Bolon. Rumah Bolon sendiri memiliki makna rumah besar, karena ukurannya memang cukup besar. Rumah adat ini sebagai simbol status sosial masyarakat Batak yang tinggal di Sumatera Utara.
Berbentuk panggung, Rumah Bolon didirikan di atas tiang kayu atau balok kayu sebagai penyangga. Dindingnya sendiri terbuat dari kayu dan berbentuk miring, dan untuk ukurannya dibuat semakin melebar ke atas. Pada dinding bagian atas terdapat ukiran khas Sumatera Utara. Rumah Bolon ini umumnya memiliki panjang antara 10-20 meter dengan atap yang berbentuk segitiga. Di bawahnya terdapat kolong setinggi sekitar dua meter yang digunakan untuk memelihara hewan ternak. Untuk menuju pintu rumah, dibangun sebuah tangga dengan jumlah anak tangganya selalu ganjil.
Dari setiap ukiran dan detail dari Rumah Bolon sendiri memiliki filosofinya masing-masing yang akan kita bahas dalam ulasan nanti.
Dan inilah dia sedikit cerita singkat dari Khasanah Budaya Batak.
Mari kita melanjutkan cerita budaya kita dalam postingan selanjutnya...

Komentar
Posting Komentar